Tadi malam 14 agustus 2009 di T.I.M, saya coba ikut2 an pengajian Cak Nun diajak ma saudara tercinta, kesan pertama, lesehan macam di Jogja, bedanya, yang liat tidak dikasih kopi gratis macam melek pitulasan (tirakatan) mcm d jogja. Sebelum Cak Nun datang, ada seasion pemanasan, mulanya tema yang nampang di background nya tertulis “Menegakkan Cinta”, waktu saya gabung tema itu berubah menjadi “Reproduksi Organism” *saya berharap sekalian bahas orgasme
*, pembicaranya macem-macem, dengan the Other View yang pelangi pula, sekjen warteg Jakarta, walo agak mbulet narasinya yang saya bs petin adalah: bahwa Organism itu bukan sekedar tubuh, namun jg jiwa, masyarakt, makan-memakan, dll.
Pembicara kedua ngomongin tentang konteks organism sebagai bagian dari kesatuan akal, jiwa, tubuh, dan manusia sebagai kemanusian bersama dunia dan alam, *sangat filosofis, terlalu banyak kata-kata yang asing bagi saya –> postmo, entologis, dll, dll*, pembicara ketiga, adalah ustadz yang menerangkan tentang manusia sebagai jasad-setan, sangat dibanjiri kata-kata agama, saya kurang bs menguasai *berharap saya bisa hadir sebagai penengah hadirin tp saya juga tk paham nir ruang di antara mereka*, ada beberapa penanya tp seolah bobotnya sepantas pembicaranya *narasinya sangat mendalam, narasinya sangat lapangan, narasinya sangat halus*, saya pun pasrah tuk semilir-semilir mengikuti alur yang terkesan sangat cair itu
.
Pengajian rutin Kenduri Cinta di TIM JKT pusat, jam 9-till drop, minggu ke 2/bulan, setiap malam sabtu ini kesannya macam kuliyah terbuka -dan sangat terbuga untuk umum -tak perlu nampangin freepass-, cewek cowok gak perlu dipisah duduknya, mo jilbaban ato gak, rok mini atau kebaya, ngerokok atau tak, metrosek atau banci n homo dapat gabung di sini, monggo
, asal guyub dan li tholabil ilm (cari ilmu).
Dan saat Cak Nun datang, di mulai dengan membaca surat ar Rahman, tema berubah otomatis menjadi “Hal Ihwal tentang Tariqah”, saya tidak begitu paham tentang kata-kata itu, walau saya juga sempat ikut-ikutan tariqah sekedar -dari pada cari dugem malam2 atau yng lain2-, ada 2 pembicara selain Cak Nun, mantan konsulat Indonesia di Mesir dan Ustadz nya cak Nun kecil waktu di Gontor dlu. bapak Konsulat kebetulan peneliti yang konsentrasi masalah tariqah, terutama naqsabandiyah, penjelasnnya seperti dosen atau guru-guru kita, harus konsentrasi *sayangnya pengalaman kul disambi jd MAPALA membuat saya agak sulit konsentrasi*, sebenarnya sangat sistematis, tentang makrifar *”MELIHAT” kesejatian wujud ‘TUHAN’ di luar segala partisi ruang-waktu*, tentang fana *”MENIADAKAN / SUWONG(jw)”, yaitu wujud hakiki makhluk yang pada dasarnya tiada secara filosofis, agama bahwan fisika* , tentang Wahdah Wujud *”KESATUAN ESENSI”, bahwa hal ihwal kedamaian tertinggi adalah menyatu dengan hakikat Tuhan, “Mereka yang Aku cintai, matanya akan menjadi mata-Ku, tangannya adalah tangan-Ku bla bla bla (al Hadits)”*, tapi suasana di TIM tidak sama macam kuliyah, untungnya setelah itu Cak Nun melengkapinya dengan menjelaskan bahwa tariqah itu laksana HP, HP i-tone *sok-sok pamer* yang dia beli dari Hongkong, tidak selalu combine ma provider GSM indonesia, kalo kpngin aktif perlu password khusus, jadi seperti kita, manusia yang ingin mengenal Tuhannya, kita butuh password khusus, yang hanya kita yang tahu, bla bla bla, tariqah itu macam bekerja *dan bekerja pada dasarnya the real Tariqah*, kita kerja sungguh-sungguh dan mendalami dengan niat karena Allah Swt bisa dikatakan tariqah, segala hal yang kita lakukan untuk lebih dekat atau lebih Cinta atau lebih sadar sebagai manusia yang manusiawi denagn hubungan yang baik dengan Nya adalah tariqah, “jual kripik ketela goreng namun dihayati sebagai ibadah” kata Cak Nun juga merupakan tariqah, bla bla bla…
Cak Nun menjelaskan agama dengan paradikma satu Tuhan banyak agama *dan dengan kesadaran penuh Tuhan memang menciptakan banyak agama*, “jangan benci Yahudi, la wong Yahudi itu jg ciptaan Allah, mereka juga cucunya nabi Ibrahim, nanti kalo kita benci, apa gak takut kalo pelukis marah karena lukisanya diejek??” “
“musik itu tidak memiliki agama, demikian juga motor tak pernah masuk islam, baju, mobil, rumah. Yang punya agama adalah jiwa manusia”, jadi menurut Cak Nun, agama adalah cara kita menghayati Allah sebisa apa yang kita jalani dalam hidup kita sehari-hari. “saya ingin menjelaskan tariqah -dan Tuhan- sebagai entitas yang mudah kita cerna -kurang lebih kt2nya macam itu-”, lalu dia menyanyikan lagu berbagai irama dan bahasa, tapi liriknya sholawat kpd Nabi. so.. “apakah lagu haleeloya, dan lagu Yahudi memiliki agama???” tentu penonton menjawab “tidaaaaakk!!!!”
, agama melalui tariqah adalah perjalann spiritual yang sangat intens, lepas dari struktur ke”agama”an yang mendaging seperti lembaga-lembaga negara dan keadilan, spiritualitas kita dengan Allah Swt, dan rasa cinta kita pada Allah tidak perlu dihalangi oleh tabir, dalam al Qur’an “Allah lebih dekat dari urat leher kita, hanya nur Muhammad lah ‘tabir’ itu *yang mengajarkan cinta sejati dengan Allah*, hal ihwal tentang para mursyid, konsulat bilang “mereka hanya guru biasa, seperti ketika kita kuliyah atau sekolah”.
Mungkin ini sebagian yang saya dapatkan. Tapi yang jelas pengajian macam begini pantas dicoba, musik Kyai Kanjeng bercampur-campur antara barat-timur, pop-rock-clasic-etnik-worldmusic, dari cucak rowo sampai jackson, dari musik padang pasir -udelan- sampai sholawat nabi, selalu mengiringi di antara pengajian dan sebagaimana kultur orang-orang indonesia yang benci serius, lawakannya membanjiri di setiap acara
) *saya bahkan lupa kalo saya dari awal kebelet mo kencing*. kalo saya bisa menilai scr intertainment range bintang 1-5, acara ini dapat 3,968876 bintang. Monggo, silahkan di coba

